BADAN PERENCANAAN, PENELITIAN, DAN PENGEMBANGAN DAERAH

Jln. Gatot Subroto No. 20 Ungaran, Telp. (024) 6924962, (024) 6924963, e-mail: bappeda@semarangkab.go.id

Berita

Pencanangan Gerakan Penanganan Stunting Kab. Semarang

Stunting Publish02

Indonesia saat ini tengah menunggu lahirnya generasi terbaik dengan memanfaatkan potensi bonus demografi yang diprediksi akan terjadi pada sepanjang periode tahun 2020 hingga tahun 2036 mendatang. Namun demikian, potensi bonus demografi tersebut bisa saja menjadi malapetaka apabila generasi mendatang tidak dipersiapkan dengan baik. Salah satu ancaman yang dihadapi adalah masih adanya kasus stunting yang ditemui di berbagai daerah, termasuk juga di Kabupaten Semarang.

Stunting/tumbuh kerdil adalah gangguan pertumbuhan kronis pada anak akibat kekurangan nutrisi dalam waktu lama. Kasus stunting sering ditemukan pada usia emas perkembangan anak, khususnya usia 1-3 tahun. Ciri-ciri fisik seorang anak yang terkena stunting secara mudahnya dapat dilihat/dikenali dari kondisi tubuhnya yang secara umum lebih pendek jika dibandingkan dengan anak seusianya.

Selain mengakibatkan terjadinya gangguan pertumbuhan pada anak, stunting juga dapat berdampak menimbulkan gangguan kecerdasan dan kemampuan belajar anak serta mengakibatkan penderitanya rentan terserang penyakit. Oleh sebab itulah Pemerintah Kabupaten Semarang merasa perlu untuk menginisiasi adanya Gerakan Penanganan Stunting sebagai satu upaya secara terencana dan sistematis seluruh elemen stakeholders yang terkait guna menanggulangi dan mencegah terjadinya kasus stunting di Kabupaten Semarang.

Gerakan Penanganan Stunting di Kabupaten Semarang dicanangkan secara langsung oleh Bupati Semarang, Bapak dr. H. Mundjirin E.S., Sp.O.G. pada tanggal 11 Juli 2019 bersamaan dengan upacara pembukaan TMMD Sengkuyung II yang bertempat di lapangan olah raga Desa Bedono Kec. Jambu.

Stunting Publish01

Dalam sambutannya Beliau Bapak Bupati Semarang menyampaikan bahwa di wilayah Kabupaten Semarang masih terdapat prevalensi stunting sebesar 6,15% yang terdiri dari sebanyak 4.431 orang balita pendek dan sangat pendek. Angka ini masih lebih rendah dari prevalensi stunting nasional yang mencapai sebesar 29,9% dan prevalensi stunting Provinsi Jawa Tengah yang mencapai 31,2%. Meskipun demikian, segenap pihak yang terkait tetap harus waspada dan sigap khususnya dalam upaya pencegahan terjadinya kasus stunting di Kabupaten Semarang.

Bapak Bupati Semarang berpesan bahwa seluruh jajaran Pemerintah Daerah harus berupaya untuk menekan angka prevalensi stunting di Kabupaten Semarang, agar anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang unggul serta memiliki daya saing tinggi baik dalam tataran regional, nasional maupun internasional. Oleh sebab itu semua pihak dan lintas sektor diharapkan turut berperan serta mendukung upaya pencegahan dan penanganan stunting melalui Gerakan penanganan stunting yang dilaksanakan secara serentak dan terpadu hingga ke tingkat Desa dan Kelurahan.

Lebih lanjut Bapak Bupati Semarang menyampaikan garis besar konsep Gerakan Penanganan Stunting yang dicanangkan di Kabupaten Semarang sebagai berikut :

1. Tujuan
Tujuan spesifik dari pencanangan Gerakan Penanganan Stunting di Kabupaten Semarang antara lain adalah :
a. Mengikat komitmen dan kerjasama Pemerintah Daerah melalui seluruh jajaran Perangkat Daerah, swasta, masyarakat dan berbagai pihak untuk membebaskan seluruh balita di Kabupaten Semarang dari stunting pada tahun 2025;
b. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat Kabupaten Semarang sehingga menjadi tahu, mau dan mampu merubah perilaku menjadi lebih bersih dan sehat.

2. Arah Kebijakan
Arah kebijakan yang ditempuh dalam Gerakan Penanganan Stunting di Kabupaten Semarang yaitu mencakup beberapa hal sebagai berikut :
a. Memastikan perencanaan dan penganggaran program/kegiatan untuk intervensi prioritas, khususnya di lokasi dengan prevalensi stunting tinggi dan/atau kesenjangan kecukupan layanan yang tinggi;
b. Memastikan perencanaan dan prinsip penganggaran langsung mengarah pada kegiatan, sasaran hingga lokus tertentu;
c. Memperbaiki pengelolaan layanan untuk intervensi gizi prioritas dan memastikan bahwa sasaran prioritas memperoleh dan memanfaatkan paket intervensi yang disediakan;
d. Mengkoordinir kecamatan dan pemerintahan desa/kelurahan dalam menylenggarakan intervensi prioritas, termasuk dalam mengoptimalkan sumber daya, sumber dana dan pemutakhiran data.

3. Strategi
Strategi yang dilaksanakan dalam Gerakan Penanganan Stunting di Kabupaten Semarang adalah sebagai berikut :
a. Menjamin agar masing-masing Balita terpantau tumbuh kembangnya;
b. Melakukan pendekatan penanganan stunting melalui intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif;
c. Pemberdayaan kelembagaan masyarakat;
d. Peningkatan kapasitas kader kesehatan/kader Posyandu;
e. Membentuk Kader Pembangunan Manusia (KPM) di tingkat Desa/Kelurahan;
f. Melaksanakan advokasi dan kampanye secara terus-menerus kepada masyarakat;
g. Sinkronisasi perencanaan daerah dan desa terkait penanganan stunting.

4. Sasaran
Sasaran pelaksanaan Gerakan Penanganan Stunting di Kabupaten Semarang adalah masyarakat Kabupaten Semarang dengan klasifikasi sebagai berikut :
a. Ibu hamil, nifas dan menyusui serta ibu balita;
b. Bayi usia 0 s.d. 6 bulan;
c. Balita usia 6 s.d. 59 bulan; dan
d. Remaja putri.

5. Implementasi
Gerakan Penanganan Stunting di Kabupaten Semarang diimplementasikan melalui serangkaian proses berikut :
a. Perencanaan;
b. Pembentukan kelembagaan/pengorganisasian
c. Sosialisasi program; dan
d. Monitoring dan evaluasi.

6. Sumber Dana
Gerakan Penanganan Stunting di Kabupaten Semarang merupakan gerakan bersama yang pendanaannya didukung oleh semua unsur stakeholder yang terlibat, yaitu terdiri dari :
a. Pemerintah Daerah melalui APBD Kabupaten Semarang;
b. Pemerintah Desa melalui APBDes;
c. Perusahaan/swasta melalui dana CSR/TJSLP;
d. Donasi kepedulian masyarakat; dan
e. Lembaga donor.

7. Indikator Keberhasilan
Guna mengetahui keberhasilannya, maka ditetapkan indikator keberhasilan dari pelaksanaan Gerakan Penanganan Stunting di Kabupaten Semarang, yaitu :
a. Menurunnya angka prevalensi stunting pada tahun 2019 menjadi sebesar 6%;
b. Meningkatnya partisipasi dan kepedulian dari perusahaan dan masyarakat dalam mendukung program penanganan stunting.